Minggu, 21 Desember 2008

Pertamina vs elpigi

dari detik .com

Pertamina Gerah Jadi Kambing Hitam Kelangkaan Elpiji
Suhendra - detikFinance



Foto: lih/detikFinance
Jakarta - Pertamina rupanya sudah mulai gerah karena selalu disalahkan jika ada kelangkaan elpiji baik 3 kg, 12 kg ataupun 50 kg. Untuk itu ia meminta agar pelaku usaha lain juga mau terjun menjadi pemasok elpiji khususnya elpiji non subsidi.

Demikian disampaikan Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (persero) Hanung Budya, usai acara konferensi pers di Kantor Pertamina Pusat, Rabu (17/12/2008).

"Elpiji ini barang dagangan bebas, sekarang ada yang lain juga yang jual. Kita undang pemain lain untuk masuk Indonesia, kita senang supaya ada pemain lain supaya Pertamina tidak terus disalahkan. Kalau harga masuk ke keekonomian berarti sudah masuk pasar," katanya.

Hanung menegaskan, penetapan harga elpiji 3 kg merupakan domain pemerintah karena masih disubsidi. Sedangkan untuk elpiji selain 3 kg tidak disubsidi pemerintah dan ditetapkan oleh Pertamina.

"Harga sampai data hari ini untuk 12 kg termasuk pajak Rp 7.250 per kilo, kita subsidi Rp 1.250 per kg," katanya.

Mengenai adanya usulan distribusi elpiji melalui pipa karena dinilai lebih efisien dan efektif, Hanung menyambut baik pemikiran tersebut. Namun kata dia, masalah jaringan pipa tergantung kemauan pemerintah.

Hanung juga menegaskan bagi pihak-pihak yang merasa kurang puas terhadap kinerja Pertamina termasuk kelangkaan elpiji, ia dapat memakluminya.

Namun dalam kondisi hari ini ketika Pertamina telah berupaya mengatasi masalah kelangkaan lalu masih ada pihak yang mengataskan elpiji kosong ia tidak bisa menerima begitu saja pendapat tersebut.

"Kalau dikatakan tidak ada elpiji 3 kg saya bilang itu naif.
Kita sudah salurkan lebih dari DOT. Memang di agen cadangan sempat kosong, sehingga sekarang sedang recovery. Tapi kalau dikatakan tidak ada 3 kg, ya kerja keras Pertamina tidak dihargai," tukasnya menjawab pertanyaan wartawan.
---------------------------------
Komen saya:
sebenarnya policy energi di indonesia seperti apa????
Article ini diambil dar Detik.com

Jakarta - Harga premium yang ideal saat ini Rp 2.500, bukan Rp 5.000. Selisih harga sebesar 50 persen itu dinilai akan membuka peluang Pertamina membiayai politik.

"Idealnya, harga BBM sekarang Rp 2.500. Sedangkan sekarang dijual Rp 5.000. Berarti ada selisih Rp 2.500. Nah, itulah kemudian yang membuka peluang bagi Pertamina untuk membiayai politik," ujar pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy.

Hal ini disampaikan Ichsanuddin dalam diskusi bertajuk "Turunnya Harga BBM Realistis Atau Politis?" di Warung Daun, Jl Pakubuwono, Jakarta Selatan, Sabtu (20/12/2008).

Ichsanuddin menyarankan agar BPK dan KPK mengawasi kerja Pertamina. "Karena ada selisih itu bisa digunakan untuk aji mumpung untuk membiayai kepentingan di luar Pertamina," kata Ichsanuddin.

Pemerintah menurunkan harga premium per 1 Desember dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500. Namun secara tiba-tiba mulai 15 Desember, pemerintah menurunkan lagi sebesar Rp 500, sehingga harga premium menjadi Rp 5.000. Selain premium pemerintah juga menurunkan harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800.(nik/ir).